Langsung ke konten utama

Mengharap Ridho Allah || Ikhlas (kisah zaman Nabi)




Mengharap Ridho Allah

Dalam salah satu peperangan, Imam Ali r.a berhasil menjatuhkan lawannya. Ketika beliau hendak memenggal kepala lawannya, tiba-tiba orang itu meludahi wajah beliau. Maka beliau pergi meninggalkan orang tersebut. Ketika ditanya kenapa beliau tidak jadi membunuh musuhnya itu, imam Ali menjawab “Karena ia telah meludahi wajahku, maka aku khawatir nanti aku membunuhnya karena dilandasi kemarahan atas perbuatannya itu. Sedangkan aku tidak mau membunuh kecuali karena ikhlas untuk Allah SWT.”

Ikhlas

Pada suatu hari, Shibliy menyampaikan ceramah yang amat mengesankan sehingga menyebabkan seorang pemuda yang mendengarkan ceramah tersebut menjerit dan meninggal seketika. Kemudian keluarga si pemuda mengadukan hal itu kepada Sultan dengan tuduhan bahwa Shibliy menjadi sebab kematian anak mereka. Maka Sultan bertanya kepada Shibliy “Bagaimana tuan mau menjawab atas tuduhan mereka itu?”
Shibliy menjawab “Ya Amirulmukminin, itulah jiwa yang rindu diseru, lalu ia menerima seruan itu!”
Mendengar jawaban itu, menangislah Amirulmukminin dan kemudian ia berkata “Bebaskan ia, karena ia tak berdosa!”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOAL ACCURATE TEORI 2015 - ANHS

1.       Yang bukan software akuntansi adalah ... A.     DacEasy Accounting B.      MYOB Accounting C.     Accurate D.    Ms.Paint E.     Zahir Acc 2.       Accurate adalah software akuntansi yang dibuat dari negara... A.     Irlandia B.      Canada C.     Australia D.    Indonesia E.     Amerika 3.       CPSSoft adalah Kepanjangan dari.. A.    Cipta Piranti Sejahtera B.      Cipta Perusahaan Sejahtera C.     Cipta Perusahaan Software D.    Cipta Piranti Software E.     Cempaka Piranti Sejahtera 4.       Eksistensi file dari program software komputer akuntansi Accurate adalah... A.     GB B.    ...

Bertemu Tiga September

Malam ini, cuaca tak terlalu dingin ataupun panas. Berbeda dengan biasanya, daerah Priok memang bagai sebuah kewajiban kalau rada ‘gerah’. Sudah sekitar pukul 00.15 dan aku masih sibuk dengan laptopku. Hari yang berganti ini memang tak asing, bukan karena sekarang adalan senin – minggu. Melainkan, aku paham betul bahwa hari ini bertepatan dengan tanggal kelahiran seseorang yang menjadi tonggak keluargaku. Ialah ayah. Seorang laki-laki yang seharusnya paling ku hormati di antara keluargaku. Aku masih belum mengucapkan apa pun kepada ayah pada menit ini. Bahkan aku tak menyiapkan hadiah untuknya. Aku sadar bahwa tak seharusnya malu untuk sekedar mengucapkan do’a secara langsung di depan ayah. Tak ada salahnya, apalagi ini adalah hari spesialnya. Seketika aku teringat akan batas umur ayah, yang entah akan benar-benar terjadi atau tidak. Namun harapku, semoga ayah bisa di sini lebih lama. Bersamaku, bersama ibu, dan kedua adikku. Kira-kira pukul 00.19, aku menghampiri a...

Antagonis: Realita peran kehidupan

Aku tidak pandai menulis bak penulis cerpen, apalagi novelis. Aku belum suka   pada deskripsi suasana yang begitu detail. Sebab itu maka, tulisan ini tak diawali dengan suasana rintik hujan, atau bisingnya angin Jakarta di malam penutupan Asian Games ini. *** Besok, aku tak tahu apakah aku masih bisa menjemput hari. Sebab malam ini terlalu gelap. Semester tiga yang kelam, dilengkapi dengan semester empatku yang gelap. Sempurna sudah. Oh iya, sadarkah kamu tentang dirimu itu? pernah atau seringkah kamu menanyakannya? Aku sendiri kadang takut saat memikirkanku. Bisa begitu, yaa. *** Waktu sudah menunjukkan pukul 23.06 dan seharusnya aku beranjak tidur. Sebab meski tak tahu aku masih di sini atau tidak, tapi rencananya, esok adalah hari H acaraku dan kawan-kawan. Tapi entah, pikiranku masih mengawang-awang. “Bagaimana bisa tidur jika kata-kata itu tak berwadah? Tak dituang?” Kalau aku, sulit sekali jika membiarkan kata itu diam membeku dan beranak-pinak hanya di dal...